Tanah Haram Mekah
Garis hijau menunjuk tapal batas tanah haram Mekah
Tanah Haram Mekah (bahasa Arab:الحرم المکی ), paling terpenting dan terkemukanya Tanah Haram kaum muslimin di Mekah yang memiliki hukum-hukum syariat yang khusus. Dalam Alquran nama kawasan ini disebut dengan Haramu Amnin (Haram yang aman). Masjidil Haram dan Kakbah berada di Tanah Haram ini.
Batas Tanah Haram Mekah
Batas kawasan Tanah Haram sudah disepakati sejak lama; dengan demikian, sangat sedikit sekali hadis terkait penentuan batasannya. Menurut salah satu hadis ini, panjang dan lebarnya Tanah Haram adalah satu barid yaitu empat farsakh dan Masjidil Haram berada di pusatnya. [1] Menurut keterangan sejarah, pertama-tama Nabi Ibrahim as berdasarkan wahyu dan dengan perantara malaikat Jibril as memberi tapal batasan Tanah Haram. [2] Dalam teks-teks hadis dan sejarah, yang menspesifikasikan batasan Tanah Haram Mekah disebut dengan A'lām, Anshāb, Manār, Ma'ālim, Azlām dan Amyāl. [3]
Setelah Nabi Ibrahim, Ismail as merenovasi tanda-tanda Tanah Haram. Pada masa Jahiliyah, Adnan bin Udad dan Qushai bin Kilab bergegas dalam masalah ini. Quraisyjuga merenovasi tapal-tapal batasan Tanah Haram pada permulaan pengutusan Rasulullah saw. Setelah penaklukan Mekahpada tahun ke-8 H, Tamim bin Asad Khaza'i dan Aswad bin Khalaf Qurasyi Zuhri, dengan perintah Rasulullah saw membetulkan dan merenovasi kembali tapal-tapal batasan Tanah Haram. Dan pada periode-periode berikutnya juga sejumlah orang melakukan renovasi tapal-tapal tersebut dan menyempurnakannya, seperti Umar bin Khattab (tahun 17 H/638), Utsman bin Affan(tahun 26 H/647), Muawiyah bin Abi Sufyan(pemerintahan: 41 H/662-60 H/680), Abdul Malik bin Marwan (pemerintahan: 65 H/685-86 H/705), Mahdi al-Abbasi (pemerintahan 158 H/775-169 H/786). [4] Setelah periode Mahdi Abbasi, tapal-tapal yang ada di gunung-gunung tidak terenovasi dan hanya yang berada di jalan-jalan masuk Mekah saja yang diperbaiki (yakni rute Madinah, Yaman, Irak, Thaif, Ja'ronah, Jeddah). [5]
Pada periode berikutnya juga orang-orang melakukan perenovasian atau membangun tapal-tapal batasan Tanah Haram, semisalnya Radhi Abbasi pada tahun 325; Mudzaffar bin Abu Bakar, Raja Ayyubi pada tahun 616; Malik Mudzaffar Yusuf bin Umar, penguasa Yaman pada tahun 683; Qaitbay Mahmoudi, salah seorang raja Cherkessia Mesir pada tahun 874; Sulthan Ahmad Khan pertama Utsmani, sekitar tahun 1023; Syarif Zaid bin Muhsin, Raja Mekah pada tahun 1073; dan Sulthan Abdul Majid pertama Utsmani pada tahun 1262. [6]
Perenovasian tapal-tapal pada periode keluarga Saud juga masih terus berlanjut. Abdul Aziz, pendiri kerajaan Saudi, pada tahun 1343 telah merenovasi atau membangun dua tapal yang ada di rute Jeddah dan setelahnya, anaknya Saud pada tahun 1376 H membangun dua tapal di kawasan Syamisi, pada tahun 1377 H telah membangun dua tapal di rute Thaif dan pada tahun 1383 H telah merenovasi tapal-tapal di arah Arafah. Demikian juga, Khalid bin Abdul Aziz telah membangun dua tapal di rute Thaif dan dua tapal di rute lama Jeddah dan Fahd bin Abdul Aziz pada tahun 1404 H telah membangun dua tapal baru di Wadi Tan'im. [7] Pada tahun 1380 H, 1384 H dan 1400 H, sekelompok para ahli telah mengkaji sebagian tapal-tapal batasan Tanah Haram. [8]
Sejarah Tanah Haram Mekah
Tanah Haram Mekah dalam Ayat-ayat Alquran
Tanah Haram Mekah dalam Hadis
Hukum-hukum Fikih dan Tanah Haram Mekah

Komentar
Posting Komentar